Bisnis dengan Allah: KISAH SUMUR DAN REKENING 1400 TAHUN

0
71 views

Utsman bin Affan merupakan Khulafaur Rasyidin yang ke-3, setelah Khalifah Umar Bin Khattab R.A. Utsman bin Affan adalah menantu sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia juga dikenal sebagai seorang saudagar yang kaya dan sangat dermawan. Beliau adalah seorang pedagang kain yang kaya raya.
Kekayaannya ini ia belanjakan guna mendapatkan keridhaan Allah SWT, yaitu untuk pembangunan umat dan ketinggian Islam. Beliau memiliki kekayaan ternak lebih banyak dari pada orang arab lainya pada saat itu
KEKAYAAN UTSMAN BIN AFFAN
Berikut adalah salah satu kisah yang dapat menggambarkan betapa kaya dan dermawannya Utsman:
Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq R. A. terjadi musim paceklik yang dahsyat. Kaum muslimin mendatangi khalifah Abu Bakar dan mengeluhkan tentang kondisi tersebut dan bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi kondisi tersebut.
Khalifah Abu Bakar pun menenangkan kaum muslimin yang datang pada saat itu dan mendoakan semoga Allah segera menurunkan pertolongan pada mereka sebelum malam tiba.
Menjelang sore, datanglah rombongan kafilah dagang yang baru pulang dari berdagang. Rombongan ini ternyata adalah rombongan dari saudagar Utsman bin Affan yang baru saja berbelanja sekaligus berdagang dari negeri Syam. Mereka membawa seribu unta yang mengangkut berbagai kebutuhan penduduk seperti gandum, minyak, dan kismis. Kedatangan rombongan kafilah dagang ini segera mengundang para tengkulak (pedagang) kota untuk membeli barang-barang kebutuhan yang dibawa oleh rombongan kafilah tersebut. Mereka bermaksud membeli barang-barang dagangan dari kafilah Utsman bin Affan untuk kemudian dijual kembali kepada para penduduk dengan mengambil keuntungan.
Ketika mereka bertanya kepada Utsman bin Affan tentang harga jual dari barang-barang tersebut, Utsman pun dengan lantang berkata kepada mereka, “Dengan segala hormat, berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku?” Dengan penuh semangat mereka menjawab, “Dua kali lipat wahai Utsman.” Utsman menjawab, “Sayang sekali! Penawaran kalian belum dapat menyaingi penawaran yang sudah aku terima. Sudah ada penawaran yang lebih tinggi dari kalian.”
Para pedagang lokal tentu tidak menyerah begitu saja, karena mereka tahu bahwa penduduk kota saat itu sedang sangat membutuhkan barang-barang kebutuhan tersebut sehingga kemungkinan besar pasti akan laku meskipun dijual kembali dengan harga tinggi. Merekapun kemudian menaikkan tawarannya sampai lima kali lipat dari penawaran pertama. Akan tetapi Utsman bin Affan tetap menolak dengan alasan yang sama yaitu bahwa sudah ada penawar lain yang menawar lebih tinggi lagi dari penawaran para pedagang tersebut.

Berbisnis dengan Allah
Atas reaksi Utsman bin Affan tersebut para pedagang tentu menjadi sangat penasaran, siapakah orang yang sudah berani menawar semua dagangan itu dengan harga yang lebih tinggi dari penawaran mereka, yang saat itu sudah sangat tinggi menurut mereka? Akhirnya para pedagang pun mengajukan pertanyaan lagi kepada Utsman, “Hai Utsman, di kota Madinah ini sepertinya sudah tak ada lagi pedagang yang dapat membeli daganganmu selain kami. Selain itu kami juga paling duluan menawar dagangan mu. Jadi siapakah orang yang mendahului kami dan berani menawar lebih tinggi dari kami?” Utsman bin Affan pun akhirnya menjawab, “Allah SWT memberikan kepadaku sepuluh kali lipat, apakah kalian mau memberi lebih dari itu?”
Utsman melanjutkan perkataannya, “Allah telah menjadi saksi bahwa seluruh barang yang dibawa kafilah ini merupakan sedekah dariku untuk para fakir miskin dan kaum Muslimin, aku ikhlas karena Allah, karena aku semata mencari ridha-Nya.” Pada sore hari itu juga Utsman bin Affan r.a. membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa oleh kafilah tadi kepada fakir miskin dan kaum muslimin Madinah. Semuanya mendapat bagian yang cukup untuk kebutuhan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here